Sejarah Tradisi Membuat Bubur Suro Pada 10 Muharrom
Di beberapa daerah, pada 10 Muharrom/Asyuro' selain melakukan ibadah-ibadah sunnah yang sudah masyhur seperti puasa, shodaqoh, menyantuni anak yatim, memakai celak hitam dan lain sebagainya.
Shodaqoh di kenal juga dengan bubur syuro', dan di beberapa tempat di indonesia lumrahnya masyarakat membuat bubur dari berbagai macam biji-bijian, mulai dari beras putih, beras merah , kacang hijau dan beberapa lagi jenis biji-bijianyang kemudian kesemuanyna dimasak menjadi bubur.
Bubur suro selain untuk dikonsumsi dengan keluarga, biasanya juga di bagikan/dishodaqohkan kepada anak-anak yatim dan dhu'afa serta muslimin yang tidak melaksanakan puasa, atau bisa juga dimakan pada saat buka puasa pada hari tsb.
Tradisi membuat bubur syuro ini mengikuti apa yang pernah di kerjakan oleh nabi Nuh dan kaumnya,Dalam kitab Bada'iuzzuhur karangan syekh Muhammad Bin Ahmad Bin Iyas al-Hanafy, Hal 64 ( versi lain karangan imam suyuti ) disebutkan sebagai berikut :
Imam al-tsa'laby berkata : Perahu nabi Nuh a.s mendarat sempurna di sebuah gunung bertepatan tanggal 10 Muharrom/ hari Asyro', maka nabi Nuh melakukan puasa pada hari itu dan memerintahkan kepada kaumnya yang ikut dalam perahunnya untuk melakukan puasa pada hari asyro' sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. dan diriwayatkan bahwa seluruh binatang yang ikut dalam perahu nabi Nuh a.s juga melaksankan puasa.
Kemudian nabi Nuh a.s mengeluarkan sisa perbekalan selama terapung dalam kapal, ada tujuh macam jenis biji-bijian yang yang di kumpulkan nabi Nuh a.s dan jumlahnya tidak banyak setelah itu nabi Nuh a.s memasak biji-bjian tersebut untuk dimakan bersama.
Pada tahun-tahun berikutnya nabi Nuh a.s dan kaumnya selalu membuat makanan seperti itu ( bubur ) pada hari 'Asyuro/10 Muharrrom, bahkan sampai sekarang ( zaman nabi Muhammad SAW ) kebiasaan ini sudah menjadi tradisi yang sudah tidak asing lagi.
Tradisi untuk Saling berbagi bubur suro ini termasuk bagian dari Shadaqah dan juga bagian dari tausi’ah (memberi nafaqah lebih) kepada keluarga yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada hari tanggal 10 Muharram (asyura). Dalam riwayat At-Thabarani dan al-Baihaqi, dari Abi Sa’id al-Khudzriy, Rasulullah SAW bersabda:
“Barang siapa berbuat tausi’ah (memberi nafqah lebih) kepada keluarganya di hari asyura, maka Allah akan memberinya keleluasaan selama setahunnya”. Hadist shahih riwayar At-Thabarani dan al-Baihaqi), Wallohu a'lam Bisshowab.
Shodaqoh di kenal juga dengan bubur syuro', dan di beberapa tempat di indonesia lumrahnya masyarakat membuat bubur dari berbagai macam biji-bijian, mulai dari beras putih, beras merah , kacang hijau dan beberapa lagi jenis biji-bijianyang kemudian kesemuanyna dimasak menjadi bubur.
Bubur suro selain untuk dikonsumsi dengan keluarga, biasanya juga di bagikan/dishodaqohkan kepada anak-anak yatim dan dhu'afa serta muslimin yang tidak melaksanakan puasa, atau bisa juga dimakan pada saat buka puasa pada hari tsb.
Tradisi membuat bubur syuro ini mengikuti apa yang pernah di kerjakan oleh nabi Nuh dan kaumnya,Dalam kitab Bada'iuzzuhur karangan syekh Muhammad Bin Ahmad Bin Iyas al-Hanafy, Hal 64 ( versi lain karangan imam suyuti ) disebutkan sebagai berikut :
Imam al-tsa'laby berkata : Perahu nabi Nuh a.s mendarat sempurna di sebuah gunung bertepatan tanggal 10 Muharrom/ hari Asyro', maka nabi Nuh melakukan puasa pada hari itu dan memerintahkan kepada kaumnya yang ikut dalam perahunnya untuk melakukan puasa pada hari asyro' sebagai bentuk rasa syukur kepada Allah SWT. dan diriwayatkan bahwa seluruh binatang yang ikut dalam perahu nabi Nuh a.s juga melaksankan puasa.
Kemudian nabi Nuh a.s mengeluarkan sisa perbekalan selama terapung dalam kapal, ada tujuh macam jenis biji-bijian yang yang di kumpulkan nabi Nuh a.s dan jumlahnya tidak banyak setelah itu nabi Nuh a.s memasak biji-bjian tersebut untuk dimakan bersama.
Pada tahun-tahun berikutnya nabi Nuh a.s dan kaumnya selalu membuat makanan seperti itu ( bubur ) pada hari 'Asyuro/10 Muharrrom, bahkan sampai sekarang ( zaman nabi Muhammad SAW ) kebiasaan ini sudah menjadi tradisi yang sudah tidak asing lagi.
Tradisi untuk Saling berbagi bubur suro ini termasuk bagian dari Shadaqah dan juga bagian dari tausi’ah (memberi nafaqah lebih) kepada keluarga yang sangat dianjurkan untuk dilakukan pada hari tanggal 10 Muharram (asyura). Dalam riwayat At-Thabarani dan al-Baihaqi, dari Abi Sa’id al-Khudzriy, Rasulullah SAW bersabda:
مَنْ وَسَّعَ عَلَى عِيَالِهِ فِيْ يَوْمِ عَاشُوْرَاءَ وَسَّعَ اللهُ عَلَيْهِ فِيْ سَنَتِهِ كُلِّهَا. (حديث صحيح رواه الطبرانى، والبيهقى.

0 Response to "Sejarah Tradisi Membuat Bubur Suro Pada 10 Muharrom"
Posting Komentar